Rabu, 24 Juli 2013

Tutorial Hijab Pesta Pashmina Dengan Bros Kupu-Kupu

Menghadiri pesta pernikahan bukan hal yang biasa, karena Anda harus tampil spesial. Kadang dilema jika memakai hijab yang biasa saja, penampilan jadi tidak sesuai dengan acara. Tampil rapi dan cantik adalah salah satu bukti bahwa Anda menghormati sang tuan rumah.
Pakai gaya jilbab pesta apa ya? Mau pakai yang mengkilap-mengkilap kok kayak ibu-ibu, mau pakai yang biasa kok kurang wow..
Anda bisa menggunakan model hijab pesta berikut ini:
Pashmina putih
Pashmina yang sesuai dengan pakaian
2 bonnet hijab
Ciput ninja
Bros kupu-kupu atau bros bunga



Tips dan Trik:
  1. Gunakan ciput ninja.
  2. Pakai satu bonnet ninja atau ciput renda.
  3. ikat pashmina warna putih dan sematkan jarum pentul seperti dalam video, satu sisi lebih panjang dari sisi yang lain.
  4. Pakai bonnet renda di atas pashmina putih.
  5. Gunakan pashmina warna di atas pashmina putih, dengan panjang ujung sama panjang dengan pashmina putih.
  6. Ambil sisi pashmina warna yang lebih panjang, bawa ke bagian atas kepala.
  7. Timpa pashmina warna dengan pashmina putih, sematkan jarum pentul.
  8. Bawa ujung pashmina warna ke bagian belakang kepala.
  9. Pilin pashmina putih yang masih menjuntai, bawa melewati bagian atas kepala. Sematkan ujungnya dengan bros kupu-kupu atau bros bunga.
  10. Rapikan kembali pashmina Anda.
Nah sekarang Anda sudah tampil cantik dan formal. Memang sih agak ribet, tapi kalau hasilnya cantik, Anda pasti senang.
Selamat mencoba :)

 sumber : vemale.com

Tutorial Cara Memakai Hijab Modern Paris

Bagaimana cara terbaik untuk memakai hijab? Cara memakai kombinasi syal yang tidak terlalu ketat di leher dan kepala? Di sini saya memberikan beberapa tips dan tutorial cara memakai hijab gaya modern menjadikan gaya yang berbeda. Anda dapat mencoba beberapa tips mengenakan hijab paris di bawah ini.

 Sebelumnya saya juga harus memakai hijab tutorial di sini, mungkin hijab teknis tutorial dan kerudung adalah sama, hanya berbeda dalam penyebutan itu. Dan saya berharap tutorial ini akan membantu Anda untuk menggunakan hijab modern dengan cara yang lebih nyaman. Atau mungkin juga dengan tutorial, Anda dapat menciptakan gaya ia disimpan dengan kreasi Anda sendiri.
Tutorial Cara Memakai Hijab modern Paris 2013


Ikuti langkah-langkah cara memakai hijab pada gambar di atas dari nomor 1,2,3,4,5,6,7,8 sampai 9, jika sudan anda tirukan berarti anda sudah siap tam modern dalam berhijab

Tutorial Jilbab Pashmina Rajut


Jilbab model pashmina sedang menjadi trend hijab belakangan ini. Kamu bisa mencoba untuk menggunakan pashmina rajut untuk tampilan jilbab di musim dingin ini. Disini kamu akan mendapatkan tutorial jilbab menggunakan pashmina rajut dengan pembuatan yang cepat dan praktis. Hasil yang ditampilkan pun chic and simple, sehingga gaya yang satu ini cocok sekali untuk penampilan kamu yang santun dan bersahaja sehari-hari. Kelebihan tutorial kali ini adalah kita hanya memerlukan jarum pentul tanpa aksesoris. Yuk, langsung saja kita coba tutorialnya,


1. Gunakan inner jilbab atau ciput ninja agar kamu “aman” dan bebas berkreasi. Kenakan jilbab rajut di atas kepala dengan sisi kiri yang lebih pendek dari sisi kanan.
2. Sematkan sisi kiri ke bagian dalam jilbab di sisi kanan, seperti yang terlihat pada gambar.
3. Ambil sisi kanan jilbab yang lebih panjang, dan arahkan ke sisi kiri dengan sisi kanan di depannya (menyilang). 4. Tarik sisi kanan tadi hingga melewati kepala dan menjadi tudung. Sematkan jarum pentul di bagian belakang agar kencang dan tidak lepas.

Rapikan tataan jilbab kamu.


Taaaa-daaaa…Selesai deh. Praktis sekali, bukan? Kamu bisa tambahkan aksesoris untuk mempercantik tampilan berjilbab kamu. Walaupun sebenarnya tanpa aksesoris jilbab pun, tampilan jilbab sudah terlihat menarik.

sumber : vemale.com

Tips Mudik Lebaran dengan Barang Bawaan

Jauh hari persiapan mudik perlu dipersiapkan, agar beberapa kebutuhan di kampung nantinya tidak ada yang tertinggal. Selain beberapa ketentuan wajib yang harus Bidadaris penuhi, seperti mengecek dan memperhitungkan barang bawaan Bidadaris.

Berikut beberapa tips mengepak barang, yang dapat Bidadaris terapkan agar memperlancar mudik Bidadaris:

PERTAMA: Ukur barang bawaan Bidadaris dengan berapa lama tinggal di kampung nantinya. Berikut kapasitas kendaraan Bidadaris, bagi Bidadaris yang mengunakan kendaraan umum ukurlah kemampuan Bidadaris untuk mengangkat dan mengawasi barang bawaan. Bidadaris tidak perlu membawa barang-barang secara berlebihan yang justru nanti tidak dimanfaatkan dan justru menambah beban perjalanan. Utamakan barang yang dinilai urgen dan sulit dicarikan penggantinya.

KEDUA: Usahakan memilih pakaian yang mudah dan cocok dipadukan dengan pakaian yang lain, juga termasuk membawa peralatan multi-fungsi, yang nantinya dapat Bidadaris pakai dan fungsikan di segala suasana.

KETIGA: Barang-barang yang bisa dibeli di kampung usahakan jangan memaksakan diri untuk membawa dari kota. Toh harga-harga di Kampung halaman Bidadaris, tak jauh berbeda dengan harga di kota.

KEEMPAT: Jika Bidadaris membawa barang berharga, posisikan secara jelas dimana barang tersebut ditempatkan. Usahakan tempatkan pada Tas yang tak jauh dari Bidadaris dan mudah pengawasan atau bila perlu sesekali dalam perjalanan yakinkan kalau barang itu masih ada.

Sekali lagi periksa masih adakah barang yang tidak perlu Bidadaris bawa sebelum Bidadaris memulai memasukan ke dalam tas Bidadaris?. Agar tas yang Bidadaris bawa dapat memuat banyak barang perhatikan cara penataannya:
  1. Pilihlah tas yang tidak memakan tempat dan mudah dibawa, untuk Bidadaris yang memanfaatkan kendaraan umum dan harus berganti-ganti kendaraan, pilihlah tas yang mengunakan roda yang akan mempermudah Bidadaris mengangkat dari satu kendaraan ke kendaraan yang lain.
  2. Mulailah memasukan pakaian yang besar dan berat, terutama celana dan baju, serapi mungkin. Untuk kaos berbahan katun Bidadaris dapat melipat sekecil mungkin dengan cara dilipat kemudian digulung lagi. Apabila tempat tidak mencukupi Bidadaris bisa menyelipkan pada bagian pinggir-pingir tas.
  3. Juga masukan barang-barang kecil yang berbahan kain pada sela-sela pakaian besar yang sudah tertata. Pastikan benar-benar tidak ada ruang kosong, dengan mengoyang-ngoyang tas Bidadaris.
  4. Jika ada saku pada tas Bidadaris, manfaatkan untuk alat-alat kecil yang Bidadaris anggap penting untuk dibawa, seperti; sisir, pemotong kuku dan pencukur kumis atau benda kecil lainnya.
  5. Pastikan setiap sudut benar-benar penuh, agar pakaian tidak mudah lusuh. Beri pengaman, agar tidak ada kekwatiran jika terjadi guncangan. Pastikan resleting terkunci rapat bila perlu beri kunci pengaman.
  6. Jika sudah sampai tujuan, segera buka tas Bidadaris dan jangan meminta orang lain membongkarnya, karena Bidadaris sendiri yang tahu posisi barang Bidadaris. Lakukan urutan pengambilan dari barang dari yang paling atas.

KapanLagi.com
cewek jilbab

Good Looking Hijab


Gadis berjilbab asal Jawa Barat berparas cantik Dheanita Tribuana usia 21 tahun  menyukai gaya berhijab yang simple tapi tetap fresh dilihat dan good looking.

Menjadi Wanita Yang Lebih Baik

Mahasiswi dari kampus UGM / Universitas Gajah Mada Yogyakarta gadis jilbaber yang memiliki tinggi badan 165 cm dengan nama lengkap Dwi Annisa Putri ini mulai mengenakan jilbab sejak kelas 3 SMA. Motivasi untuk menggunakan jilbab karena itu tidak lebih hanya ingin menjadi orang yang lebih baik.

Tidak ada keraguan banyak orang yang berpikir bahwa jika seseorang telah menggunakan jilbab memiliki karakter yang sempurna yang bisa berbuat salah, dan oleh karena itu jika ada terselubung membuat kesalahan maka akan mendapatkan banyak kritik.

Pandang apa meyakinkan saya untuk berubah menjadi lebih baik berniat untuk menjaga perilaku jilbab mengingatkan yang saya gunakan. Tidak mudah untuk menggunakan jilbab di awal, banyak orang yang tidak percaya bahwa saya inginkan. Selain itu, saya juga masih sering tergoda oleh beberapa pakaian yang cukup menarik digunakan jika tidak ada tabir.

Tapi pengembangan model pakaian saat ini begitu beragam yang membuat jilbab lebih menarik dan lebih banyak menggunakan.
Yang paling berkesan pengalaman selama ini adalah ketika berhasil mempengaruhi orang-orang terdekat saya juga mengenakan jilbab untuk alasan melindungi diri dari segala prasangka dan perilaku negatif di sekitar.
Dan ketika orang-orang bertanya mengapa dia menggunakan jilbab, bisa menjawab dengan bangga bahwa sebagai pengingat ketika melakukan hal yang salah.

Cara berpakaian wanita muslimah

Jika diperhatikan cara berpakaian seperti  saat ini, terutama dikalangan para remaja puteri tampaknya sudah jauh dari tuntunan Islam.  Mereka sudah tidak malu-malu lagi mempertontonkan auratnya, bahkan menjadi suatu kebanggaan bagi mereka.  Alasannya, jika tidak berpakaian seperti itu
dianggap tidak mengikuti perkembangan mode.  Kita boleh saja mengikuti perkembangan mode tetapi jangan sampai mejgobral aurat.  Jika demikian, bagaimana berpakaian menurut islam ?

1. Menutup aurat
AURAT lelaki menurut ahli hukum ialah daripada pusat hingga ke lutut. Aurat wanita pula ialah seluruh anggota badannya, kecuali wajah, tapak tangan dan tapak kakinya. Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Paha itu adalah aurat." (Bukhari)

2. Tidak menampakkan tubuh
PAKAIAN yang jarang sehingga menampakkan aurat tidak memenuhi syarat menutup aurat. Pakaian jarang bukan saja menampak warna kulit, malah boleh merangsang nafsu orang yang melihatnya.
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat ialah, satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan bagi memukul manusia dan satu golongan lagi wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang dan meliuk-liukkan badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk.
Mereka tidak masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya walaupun bau syurga itu dapat dicium daripada jarak yang jauh." (Muslim)

3. Pakaian tidak ketat
TUJUANNYA adalah supaya tidak kelihatan bentuk tubuh badan

4. Tidak menimbulkan riak
RASULULLAH SAW bersabda bermaksud: "Sesiapa yang melabuhkan pakaiannya kerana perasaan sombong, Allah SWT tidak akan memandangnya pada hari kiamat." Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Sesiapa yang memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan pada hari akhirat nanti." (Ahmad, Abu Daud, an-Nasa'iy dan Ibnu Majah)

5. Lelaki, wanita berbeza
MAKSUDNYA pakaian yang khusus untuk lelaki tidak boleh dipakai oleh wanita, begitu juga sebaliknya. Rasulullah SAW mengingatkan hal ini dengan tegas menerusi sabdanya yang bermaksud: "Allah mengutuk wanita yang meniru pakaian dan sikap lelaki, dan lelaki yang meniru pakaian dan sikap perempuan." (Bukhari dan Muslim)
Baginda juga bersabda bermaksud: "Allah melaknat lelaki berpakaian wanita dan wanita berpakaian lelaki." ?(Abu Daud dan Al-Hakim).

6. Larangan pakai sutera
ISLAM mengharamkan kaum lelaki memakai sutera. Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Janganlah kamu memakai sutera, sesungguhnya orang yang memakainya di dunia tidak dapat memakainya di akhirat." (Muttafaq 'alaih)

7. Melabuhkan pakaian
CONTOHNYA seperti tudung yang seharusnya dipakai sesuai kehendak syarak iaitu bagi menutupi kepala dan rambut, tengkuk atau leher dan juga dada. Allah berfirman bermaksud: "Wahai Nabi, katakanlah (suruhlah) isteri-isteri dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan beriman, supaya mereka melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang." ?(al-Ahzab:59)

8. Memilih warna sesuai
CONTOHNYA warna-warna lembut termasuk putih kerana ia nampak bersih dan warna ini sangat disenangi dan sering menjadi pilihan Rasulullah SAW. Baginda bersabda bermaksud: "Pakailah pakaian putih kerana ia lebih baik, dan kafankan mayat kamu dengannya (kain putih)." (an-Nasa'ie dan al-Hakim)

9. Larangan memakai emas
TERMASUK dalam etika berpakaian di dalam Islam ialah barang-barang perhiasan emas seperti rantai, cincin dan sebagainya.
Bentuk perhiasan seperti ini umumnya dikaitkan dengan wanita namun pada hari ini ramai antara para lelaki cenderung untuk berhias seperti wanita sehingga ada yang sanggup bersubang dan berantai.
Semua ini amat bertentangan dengan hukum Islam. Rasulullah s.a.w. bersabda bermaksud: "Haram kaum lelaki memakai sutera dan emas, dan dihalalkan (memakainya) kepada wanita."

10. Mulakan sebelah kanan
APABILA memakai baju, seluar atau seumpamanya, mulakan sebelah kanan. Imam Muslim meriwayatkan daripada Saidatina Aisyah bermaksud: "Rasulullah suka sebelah kanan dalam segala keadaan, seperti memakai kasut, berjalan kaki dan bersuci."Apabila memakai kasut atau seumpamanya, mulakan dengan sebelah kanan dan apabila menanggalkannya, mulakan dengan sebelah kiri.
Rasulullah SAW bersabda bermaksud: "Apabila seseorang memakai kasut, mulakan dengan sebelah kanan, dan apabila menanggalkannya, mulakan dengan sebelah kiri supaya yang kanan menjadi yang pertama memakai kasut dan yang terakhir menanggalkannya." (Riwayat Muslim).

11. Selepas beli pakaian
APABILA memakai pakaian baru dibeli, ucapkanlah seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tarmizi yang bermaksud:
"Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau yang memakainya kepadaku, aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa-apa yang dibuat baginya, aku mohon perlindungan kepada-Mu daripada kejahatannya dan kejahatan apa-apa yang diperbuat untuknya. Demikian itu telah datang daripada Rasulullah".

12. Berdoa
KETIKA menanggalkan pakaian, lafaz- kanlah: "Pujian kepada Allah yang mengurniakan pakaian ini untuk menutupi auratku dan dapat mengindahkan diri dalam kehidupanku, dengan nama Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia.
"Sebagai seorang Islam, sewajarnya seseorang itu memakai pakaian yang sesuai menurut tuntutan agamanya kerana sesungguhnya pakaian yang sopan dan menutup aurat adalah cermin seorang Muslim yang sebenar.

Terkait dengan warna pakaian terutama pakaian perempuan, terdapat beragam sikap orang yang dapat kita jumpai. Ada yang beranggapan bahwa warna pakaian seorang perempuan muslimah itu harus hitam atau minimal warna yang cenderung gelap. Di sisi lain ada yang memiliki pandangan bahwa perempuan bebas memilih warna dan motif apa saja yang dia sukai. Sesungguhnya Allah itu maha indah dan mencintai keindahan, kata mereka beralasan. Manakah yang benar dari pendapat-pendapat ini jika ditimbang dengan aturan al-Qur’an dan sunnah shahihah yang merupakan suluh kita untuk menentukan pilihan dari berbagai pendapat yang kita jumpai?


Salah satu persyaratan pakaian muslimah yang syar’i adalah pakaian tersebut bukanlah perhiasan. Dalam syarat ini adalah firman Allah yang artinya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. an Nur:31). Dengan redaksinya yang umum ayat ini mencakup larangan menggunakan pakaian luar jika pakaian tersebut berstatus “perhiasan” yang menarik pandangan laki-laki.

عن فَضَالَةُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَى إِمَامَهُ وَمَاتَ عَاصِيًا وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ أَبَقَ فَمَاتَ وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا قَدْ كَفَاهَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ فَلَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ

Dari Fadhalah bin Ubaid, dari Nabi beliau bersabda, “Tiga jenis orang yang tidak perlu kau tanyakan (karena mereka adalah orang-orang yang binasa). Yang pertama adalah orang yang meninggalkan jamaah kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang muslim yang memiliki kekuasaan yang sah dan memilih untuk mendurhakai penguasa tersebut sehingga meninggal dalam kondisi durhaka kepada penguasanya. Yang kedua adalah budak laki-laki atau perempuan yang kabur dari tuannya dan meninggal dalam keadaan demikian. Yang ketiga adalah seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya padahal suaminya telah memenuhi segala kebutuhan duniawinya lalu ia bertabarruj setelah kepergian sang suami. Jangan pernah bertanya tentang mereka.” (HR Ahmad no 22817 dll, shahih. Lihat Fiqh Sunnah lin Nisa’, hal 387)

Sedangkan tabarruj itu didefinisikan oleh para ulama’ dengan seorang perempuan yang menampakkan “perhiasan” dan daya tariknya serta segala sesuatu yang wajib ditutupi karena hal tersebut bisa membangkitkan birahi seorang laki-laki yang masih normal.

Di samping itu, maksud dari perintah berjilbab adalah menutupi segala sesuatu yang menjadi perhiasan (baca: daya tarik) seorang perempuan. Maka sungguh sangat aneh jika ternyata pakaian yang dikenakan tersebut malah menjadi daya tarik tersendiri. Sehingga fungsi pakaian tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Meski demikian anggapan sebagian perempuan multazimah (yang komitmen dengan aturan agama) bahwa seluruh pakaian yang tidak berwarna hitam adalah pakaian “perhiasan” adalah anggapan yang kurang tepat dengan menimbang dua alasan.

Yang pertama, sabda Nabi,

إن طيب الرجال ما خفي لونه وظهر ريحه ، وطيب النساء ما ظهر لونه وخفي ريحه

“Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi nampak bau harumnya. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman no.7564 dll, hasan. Lihat Fiqh Sunnah lin Nisa’, hal. 387)

Hadits ini mengisyaratkan bahwa adanya warna yang jelas bukanlah suatu hal yang terlarang secara mutlak bagi seorang perempuan muslimah.

Yang kedua, para sahabiyah (sahabat Nabi yang perempuan) bisa memakai pakaian yang berwarna selain warna hitam. Bukti untuk hal tersebut adalah riwayat-riwayat berikut ini:

عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ الْقُرَظِيُّ قَالَتْ عَائِشَةُ وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ فَشَكَتْ إِلَيْهَا وَأَرَتْهَا خُضْرَةً بِجِلْدِهَا فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنِّسَاءُ يَنْصُرُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا قَالَتْ عَائِشَةُ مَا رَأَيْتُ مِثْلَ مَا يَلْقَى الْمُؤْمِنَاتُ لَجِلْدُهَا أَشَدُّ خُضْرَةً مِنْ ثَوْبِهَا

Dari Ikrimah, Rifa’ah menceraikan istrinya yang kemudian dinikahi oleh Abdurrahman bin az Zubair. Aisyah mengatakan, “Bekas istri rifa’ah itu memiliki kerudung yang berwarna hijau. Perempuan tersebut mengadukan dan memperlihatkan kulitnya yang berwarna hijau. Ketika Rasulullah tiba, Aisyah mengatakan, Aku belum pernah melihat semisal yang dialami oleh perempuan mukminah ini. Sungguh kulitnya lebih hijau dari pada pakaiannya.” (HR. Bukhari no. 5377)

Dari Ummi Khalid binti Khalid, Nabi mendapatkan hadiah berupa pakaian berwarna hitam berukuran kecil. Nabi bersabda, “Menurut pendapat kalian siapakah yang paling tepat kuberikan pakaian ini kepadanya?” Para sahabat hanya terdiam seribu bahasa. Beliau lantas bersabda, “Bawa kemari Ummi Khalid (seorang anak kecil perempuan yang diberi kunyah Ummi Khalid)” Ummi Khalid dibawa ke hadapan Nabi sambil digendong. Nabi lantas mengambil pakaian tadi dengan tangannya lalu mengenakannya pada Ummi Khalid sambil mendoakannya, “Moga awet, moga awet.” Pakaian tersebut memiliki garis-garis hijau atau kuning. Nabi kemudian berkata, “Wahai Ummi khalid, ini pakaian yang cantik.” (HR. Bukhari no. 5823)

Meski ketika itu Ummi Khalid belum balig namun Nabi tidak mungkin melatih dan membiasakan anak kecil untuk mengerjakan sebuah kemaksiatan. Sehingga hadits ini menunjukkan bolehnya seorang perempuan mengenakan pakaian berwarna hitam yang bercampur dengan garis-garis berwarna hijau atau kuning. Jadi pakaian tersebut tidak murni berwarna hitam.

Dari al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr, “Sesungguhnya Aisyah memakai pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur saat beliau berihram” (HR. Ibnu Abi Syaibah 8/372, dengan sanad yang shahih)

Pada tulisan yang lewat telah kita bahas bahwa yang dimaksud dengan celupan dengan ‘ushfur adalah celupan yang menghasilkan warna merah.

Perbuatan Aisyah sebagaimana dalam riwayat di atas menunjukkan bahwa seorang perempuan muslimah diperbolehkan memakai pakaian berwarna merah polos. Bahkan pakaian merah polos adalah pakaian khas bagi perempuan sebagaimana keterangan di edisi yang lewat.

Berikut ini beberapa riwayat yang kuat dari salaf tentang hal ini:

Dari Ibrahim an Nakha’i, bersama Alqamah dan al Aswad beliau menjumpai beberapa istri Nabi. beliau melihat para istri Nabi tersebut mengenakan pakaian berwarna merah.
Dari Ibnu Abi Mulaikah, aku melihat Ummi Salamah mengenakan kain yang dicelup dengan ‘ushfur (baca: berwarna merah).
Dari Hisyam dari Fathimah bin al Mundzir, sesungguhnya asma’ memakai pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur (baca: berwarna merah)
Dari Said bin Jubair, beliau melihat salah seorang istri Nabi yang thawaf mengelilingi Ka’bah sambil mengenakan pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur (Baca: Berwarna merah). (Lihat Jilbab Mar’ah Muslimah karya al Albani hal. 122-123).
Di samping itu riwayat-riwayat di atas juga menunjukkan bahwa pakaian berwarna merah tersebut dipakai di hadapan banyak orang.

Singkat kata, yang dimaksud dengan pakaian yang menjadi “perhiasan” yang tidak boleh dipakai oleh seorang muslimah ketika keluar rumah adalah:

Pakaian yang terdiri dari berbagai warna (Baca: Warna warni).
Pakaian yang dihias dengan garis-garis berwarna keemasan atau berwarna perak yang menarik perhatian laki-laki yang masih normal. (Fiqh Sunnah lin Nisa’, hal. 388).
Al Alusi berkata, “Kemudian ketahuilah bahwa menurut kami termasuk “perhiasan” yang terlarang untuk dinampakkan adalah kelakuan mayoritas perempuan yang bergaya hidup mewah di masa kita saat ini yaitu pakaian yang melebihi kebutuhan untuk menutupi aurat ketika keluar dari rumah. Yaitu pakaian dari tenunan sutra terdiri dari beberapa warna (baca:warna-warni). Pada pakaian tersebut terdapat garis-garis berwarna keemasan atau berwarna perak yang membuat mata lelaki normal terbelalak. Menurut kami suami atau orang tua yang mengizinkan mereka keluar rumah dan berjalan di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya dalam keadaan demikian itu disebabkan kurangnya rasa cemburu. Hal ini adalah kasus yang terjadi di mana-mana.” (Ruhul Ma’ani, 6/56, lihat Jilbab Mar’ah Muslimah, karya Al Albani hal. 121-122).

Jika demikian keadaan di masa beliau, lalu apa yang bisa kita katakan tentang keadaan masa sekarang! Allahul Musta’an (Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan).

Meskipun demikian, pakaian yang lebih dianjurkan adalah pakaian yang berwarna hitam atau cenderung gelap karena itu adalah:

Pakaian yang sering dikenakan oleh para istri Nabi. Ketika Shafwan menjumpai Aisyah yang tertinggal dari rombongan, Shafwan melihat sosok hitam seorang yang sedang tidur. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits dari Aisyah yang menceritakan bahwa sesudah turunnya ayat hijab, para perempuan anshar keluar dari rumah-rumah mereka seakan-akan di kepala mereka terdapat burung gagak yang tentu berwarna hitam. (HR. Muslim)
Serba Serbi Seputar Warna

Jilbab Putih
Lajnah Daimah (Komite Fatwa Para Ulama’ Saudi) pernah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Apakah seorang perempuan diperbolehkan memakai pakaian ketat dan memakai pakaian berwarna putih?”

Jawaban Lajnah Daimah, “Seorang perempuan tidak diperbolehkan untuk menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya atau keluar ke jalan-jalan dan pusat perbelanjaan dalam keadaan memakai pakaian yang ketat, membentuk lekuk tubuh bagi orang yang memandangnya. Karena dengan pakaian tersebut, perempuan tadi seakan telanjang, memancing syahwat dan menjadi sebab timbulnya hal-hal yang berbahaya. Demikian pula, seorang perempuan tidak diperbolehkan memakai pakaian yang berwarna putih jika warna pakaian semisal itu di daerahnya merupakan ciri dan simbol laki-laki. Jika hal ini dilanggar berarti menyerupai laki-laki, suatu perbuatan yang dilaknat oleh Nabi.” (Fatawa al Mar’ah, 2/84, dikumpulkan oleh Muhammad Musnid).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pada asalnya seorang perempuan diperbolehkan memakai pakaian yang berwarna putih asalkan cukup tebal sehingga tidak transparan/tembus pandang terutama ketika matahari bersinar cukup terik. Hukum ini bisa berubah jika di tempat tersebut pakaian berwarna putih merupakan ciri khas pakaian laki-laki maka terlarang karena menyerupai lawan jenis bukan karena warna putih.

Oleh karena itu pandangan miring sebagian wanita multazimah (yang komitmen dengan syariat) di negeri kita terhadap wanita yang berwarna putih adalah pandangan yang tidak tepat karena di negeri kita pakaian berwarna putih bukanlah ciri khas pakaian laki-laki, bahkan sebaliknya menjadi ciri pakaian perempuan (Baca: Jilbab).

Pakaian Perhiasan

Dalam edisi yang lewat, telah kita bahas tentang salah satu yang terlarang untuk pakaian perempuan yaitu bukan perhiasan dan telah kita sebutkan dua kriteria untuk mengetahui hal tersebut. Namun beberapa waktu yang lewat kami dapatkan penjelasan yang lebih tepat mengenai hal ini. Tepatnya dari Syaikh Ali al Halabi, salah seorang ulama dari Yordania. Ketika beliau ditanya tentang parameter untuk menilai suatu pakaian itu pakaian perhiasan ataukah bukan bagi seorang perempuan, beliau katakan, “Parameter untuk menilai hal tersebut adalah ‘urf (aturan tidak tertulis dalam suatu masyarakat)” (Puncak, Bogor 14 Februari 2007 pukul 17:15).

Penjelasan beliau sangat tepat, karena dalam ilmu ushul fiqh terdapat suatu kaedah: “Pengertian dari istilah syar’i kita pahami sebagaimana penjelasan syariat. Jika tidak ada maka mengacu kepada penjelasan linguistik arab. Jika tetap tidak kita jumpai maka mengacu kepada pandangan masyarakat setempat (‘urf ).”

Misal pengertian menghormati orang yang lebih tua. Definisi tentang hal ini tidak kita jumpai dalam syariat maupun dari sudut pandang bahasa Arab. Oleh karena itu dikembalikan kepada pandangan masyarakat setempat. Jika suatu perbuatan dinilai menghormati maka itulah penghormatan. Sebaliknya jika dinilai sebagai penghinaan maka statusnya adalah penghinaan. Hal serupa kita jumpai dalam pengertian pakaian perhiasan bagi seorang muslimah yang terlarang. Misal menurut pandangan masyarakat kita pakaian kuning atau merah polos bagi seorang perempuan yang dikenakan ketika keluar rumah adalah pakaian perhiasan maka itulah pakaian perhiasan yang terlarang. Akan tetapi di tempat atau masa yang berbeda pakaian dengan warna tersebut tidak dinilai sebagai pakaian perhiasan maka pada saat itu pakaian tersebut tidak dinilai sebagai pakaian perhiasan yang terlarang