Tampilkan postingan dengan label Jilbab Kreasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jilbab Kreasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2013

Fenomena Pakai Jilbab

Fenomena Jilbab


Apakah fenomena ini sebatas tren yang punya jangka waktu tertentu, atau lahir dari sebuah kesadaran kolektif keagamaan? Murnikah hanya sebagai sebuah mode yang terselip unsur privacy di dalamnya, atau terselip unsur resistensi dan ideologi sebagai salah satu bentuk reaksi atau perlawanan terhadap kekuatan luar, seperti kecemasan dari dampak arus globalisasi, westernisasi, dan fenomena deislamisasi lain?

Apakah fenomena jilbab punya andil di dalam maraknya aspirasi peraturan daerah (perda) syari'ah, atau sebaliknya, perda syari'ah menjadi faktor merebaknya fenomena jilbab? Atau semacam gayung bersambut, tren jilbab sebagai mode, privacy, dan resistensi, mendapatkan legitimasi struktural?
Jika jilbab tampil bukan hanya sebagai mode dan privacy, tetapi tampil sebagai suatu kekuatan, pergerakan, pertahanan, dan proteksi, maka pada saat itu fenomena jilbab memiliki nuansa baru, bukan lagi hanya sebatas penutup aurat bagi perempuan tetapi memiliki kekuatan politik yang patut diperhitungkan.
Apakah fenomena seperti ini akan memberikan harapan lebih positif bagi dunia perempuan atau sebaliknya, fenomena ini lebih merupakan bentuk lain dari politik patriarki yang menggunakan simbol-simbol agama di dalam melanggengkan status kuno: Kaum perempuan diserukan menggunakan jilbab dan kaum laki-laki diserukan memelihara kumis dan jenggot, dan dengan demikian segregasi laki-laki dan perempuan tetap akan langgeng?
Pengertian jilbab
Pakaian penutup kepala perempuan di Indonesia semula lebih umum dikenal dengan kerudung, tetapi permulaan tahun 1980-an lebih populer dengan jilbab. Jilbab berasal dari akar kata jalaba, berarti menghimpun dan membawa. Jilbab pada masa Nabi Muhammad SAW ialah pakaian luar yang menutupi segenap anggota badan dari kepala hingga kaki perempuan dewasa.
Jilbab dalam arti penutup kepala hanya dikenal di Indonesia. Di beberapa negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah, seperti chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, hijab di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Hanya saja pergeseran makna hijab dari semula berarti tabir, berubah makna menjadi pakaian penutup aurat perempuan semenjak abad ke-4 H.
Jenis pakaian perempuan pada masa Nabi sebagaimana dapat ditelusuri di dalam syair-syair Jahiliyah, antara lain burqu', kain transparan atau perhiasan perak yang menutupi bagian muka kecuali dua bola mata; niqab, kain halus yang menutupi bagian hidung dan mulut; miqna'ah, kerudung mini yang menutupi kepala; qina', kerudung lebih lebar; litsam atau nishaf, kerudung lebih panjang atau selendang; khimar, istilah generik untuk semua pakaian penutup kepala dan leher; jilbab, pakaian luar seperti dijelaskan di atas.
Latar belakang jilbab
Jilbab merupakan fenomena simbolik sarat makna. Jika yang dimaksud jilbab penutup kepala (veil) perempuan, maka jilbab sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3.000 SM), kemudian berlanjut di dalam Code Hammurabi (2.000 SM) dan Code Asyiria (1.500 SM). Ketentuan penggunaan jilbab sudah dikenal di beberapa kota tua seperti Mesopotamia, Babilonia, dan Asyiria. Perempuan terhormat harus menggunakan jilbab di ruang publik. Sebaliknya, budak perempuan dan prostitusi tidak boleh menggunakan. Perkembangan selanjutnya jilbab menjadi simbol kelas menengah atas masyarakat kawasan itu.
Ketika terjadi perang antara Romawi-Byzantium dan Persia, rute perdagangan antarpulau mengalami perubahan untuk menghindari akibat buruk wilayah peperangan. Kota di beberapa pesisir Jazirah Arab tiba-tiba menjadi penting sebagai wilayah transit perdagangan. Wilayah ini juga menjadi alternatif pengungsian dari daerah yang bertikai. Globalisasi peradaban secara besar-besaran terjadi pada masa ini. Kultur Hellenisme-Byzantium dan Mesopotamia-Sasania ikut menyentuh wilayah Arab yang tadinya merupakan geokultural tersendiri. Menurut De Vaux dalam Sure le Voile des Femmes dans l'Orient Ancient, tradisi jilbab (veil) dan pemisahan perempuan (seclution of women) bukan tradisi orisinal bangsa Arab, bahkan bukan juga tradisi Talmud dan Bibel. Tokoh-tokoh penting di dalam Bibel, seperti Rebekah yang mengenakan jilbab berasal dari etnis Mesopotamia di mana jilbab merupakan pakaian adat di sana.
Jilbab yang semula tradisi Mesopotamia-Persia dan pemisahan laki-laki dan perempuan merupakan tradisi Hellinistik-Byzantium, menyebar menembus batas geokultural, tidak terkecuali bagian utara dan timur Jazirah Arab seperti Damaskus dan Baghdad yang pernah menjadi ibu kota politik Islam zaman Dinasti Mu'awiyah dan Abbasiah.
Institusionalisasi jilbab dan pemisahan perempuan mengkristal ketika dunia Islam bersentuhan dengan peradaban Hellenisme dan Persia di kedua kota penting tersebut. Pada periode ini, jilbab yang tadinya merupakan pakaian pilihan (occasional costume) mendapatkan kepastian hukum (institutionalized), pakaian wajib bagi perempuan Islam. Kedua kota tersebut juga punya andil besar dalam kodifikasi kitab-kitab standard seperti hadis, tafsir, fikih, tarekh, termasuk pembakuan standar penulisan (rasm) dan bacaan (qira'at) Al Quran. Disadari atau tidak, unsur Hellinisme-Persia ikut berpengaruh di dalam kodifikasi dan standardisasi tersebut. Sebagai contoh, riwayat Israiliyat ikut mempertebal jilid kitab Tafsir al-Thabary yang kemudian menjadi rujukan ulama pada kitab-kitab tafsir sesudahnya.
Wacana jilbab dalam Islam
Ada dua istilah populer digunakan Al Quran untuk penutup kepala yaitu khumur dan jalabib, keduanya dalam bentuk jamak dan bersifat generik. Kata khumur (QS al-Nur/34:31) bentuk jamak dari khimar dan kata jalabib (QS al-Ahdzab/33:59) bentuk jamak kata jilbab.
Al Quran dan hadis tidak pernah secara khusus menyinggung bentuk pakaian penutup muka. Bahkan, dalam hadis, muka dengan tegas masuk dalam pengecualian dan dalam suasana ihram tidak boleh ditutupi. Lagi pula, ayat-ayat yang berbicara tentang penutup kepala tidak ada satu pun disangkutpautkan dengan unsur mitologi dan strata sosial. Dua ayat di atas merupakan tanggapan terhadap kasus tertentu yang terjadi pada masa Nabi. Penerapan ayat seperti ini menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama Ushul Fikih; apakah yang dijadikan pegangan lafaznya yang bersifat umum, atau sebab turunnya yang bersifat khusus.
Dua ayat di atas turun dalam konteks keamanan dan kenyamanan perempuan. Bandingkan dengan chador yang dalam mitologi Sasania-Persia, dianggap pengganti kemah menstruasi (menstrual hut), tempat pengasingan perempuan menstruasi di luar perkampungan. Sementara dalam tradisi Yunani, jilbab dianggap fenomena kelas masyarakat tertentu.
Ayat khimar turun untuk menanggapi model pakaian perempuan yang ketika itu menggunakan penutup kepala (muqani'), tetapi tidak menjangkau bagian dada, sehingga bagian dada dan leher tetap kelihatan. Menurut Muhammad Sa'id al-'Asymawi, QS al-Nur/24:31 turun untuk memberikan pembedaan antara perempuan mukmin dan perempuan selainnya, tidak dimaksudkan untuk menjadi format abadi (uridu fihi wadl' al-tamyiz, wa laisa hukman muabbadan).
Ayat jilbab juga turun berkenaan seorang perempuan terhormat yang bermaksud membuang hajat di belakang rumah di malam hari tanpa menggunakan jilbab, maka datanglah laki-laki iseng mengganggu karena dikira budak. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya QS al-Ahdzab/33:33. Menurut Al-'Asymawi dan Muhammad Syahrur, terkait dengan alasan dan motivasi tertentu (illat); karenanya berlaku kaidah: Suatu hukum terkait dengan illat, di mana ada illat di situ ada hukum. Jika illat berubah, maka hukum pun berubah.
Ayat hijab, sangat terkait dengan keterbatasan tempat tinggal Nabi bersama beberapa istrinya dan semakin besarnya jumlah sahabat yang berkepentingan dengannya. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan (perlu diingat, ayat hijab ini turun setelah kejadian tuduhan palsu/hadis al-ifk terhadap 'Aisyah), Umar mengusulkan agar dibuat sekat (Arab: hijab) antara ruang tamu dan ruang privat Nabi. Tetapi, tidak lama kemudian turunlah ayat hijab.
Sedangkan, hadis yang berhubungan langsung dengan penggunaan jilbab hanya ditemukan dalam dua hadis ahad, hadis yang diriwayatkan perorangan, bukan secara kolektif dan massif (masyhur atau mutawatir). hadis pertama bersumber dari Aisyah, Rasulullah bersabda, "Tidak diperkenankan seorang perempuam yang beriman kepada Allah dan Rasulnya jika sudah sampai usia balig menampakkan (anggota badannya) selain muka dan kedua tangannya sampai di sini," sambil menunjukkan setengah hasta.
Hadis kedua dari Daud yang diterima dari Aisyah, yang menceritakan ketika Asma binti Abi Bakr masuk ke rumah kediaman Rasulullah SAW, lalu Rasulullah mengatakan kepadanya, "Wahai Asma, sesungguhnya perempuan jika sampai usia balig, tidak boleh dipandang kecuali yang ini," sambil Rasulullah menunjukkan wajah dan telapak tangannya.
Menurut Asymawi, kedua hadis tersebut termasuk hadis ahad, bukan hadis mutawatir atau masyhur. Berdasar dengan hadis ahad memang kontroversial di kalangan ulama Ushul Fikih. Salah satu hadis tersebut di-mursal-kan (jaringan penutur terputus) oleh Abu Daud, karena bersumber dari Khalid ibn Darik yang bukan hanya tidak berjumpa (mu'asharah) tetapi juga tidak ketemu (liqa') dengan Aisyah. Di samping itu, hadis ini mulai populer pada abad ketiga Hijriah., dipopulerkan oleh Khalid ibn Darik, yang kemudian dimonumentalkan dalam Sunan Abu Daud. Kalau sekiranya hadis ini direpresentasikan pada umat Islam, maka sejak awal jilbab menjadi tradisi kolektif keseharian (sunnah mutawatirah bi al-fi'l), bukannya dengan kualifikasi hadis ahad-mursal. Tradisi jilbab di kalangan sahabat dan tabi'in, menurut Asymawi, lebih merupakan keharusan budaya daripada keharusan agama.
Muhammad Syahrur dalam bukunya Al-Kitab wa al-Qur'an juga pernah menyatakan hijab hanya termasuk dalam urusan harga diri, bukan urusan halal atau haram. Pada awal abad ke-19 Qasim Amin dalam Tahrir al-Mar'ah sudah mempersoalkan hal ini. Namun perlu ditegaskan, meskipun pemikir itu berpandangan kritis terhadap jilbab, tetapi mereka tetap mengidealkan penggunaan jilbab bagi perempuan. Inti wacana mereka adalah bagaimana jilbab tidak membungkus kreativitas dan produktivitas perempuan, bukannya melarang atau menganjurkan pembukaan jilbab.
Jilbab sebagai fenomena
resistensi

Ketika gerakan para mullah mulai marak di Iran pada tahun 1970-an dan mencapai puncaknya ketika Imam Khomeini berhasil menggusur Reza Pahlevi yang dipopulerkan sebagai antek dunia Barat di Timur Tengah, maka Khomeini menjadi lambang kemenangan Islam terhadap boneka Barat. Simbol-simbol kekuatan Khomeini, seperti foto Imam Khomeini dan komunitas Black Veil menjadi tren di kalangan generasi muda Islam seluruh dunia. Semenjak itu jilbab mulai menghiasi kampus dunia Islam, tidak terkecuali Indonesia. Identitas jilbab seolah sebagai lambang kemenangan.
Perkembangan berikutnya, ketika perang dingin blok Timur dan blok Barat usai berbarengan dengan semakin pesatnya kekuatan pengaruh globalisasi, maka timbul kecemasan lebih kompleks dari kalangan umat Islam. Islam dan berbagai pranatanya berhadap-hadapan langsung dengan dunia Barat. Apa yang dilukiskan Huntington benturan Barat-Islam akan terjadi pada pascabenturan Timur-Barat, menunjukkan adanya tanda kebenaran, terutama setelah peristiwa 11 September 2001.
Sebagian umat Islam percaya bahwa untuk mengembalikan kekuatan Islam seperti zaman kejayaan dulu, umat Islam harus kembali kepada formalisme keagamaan dan sejarah masa lampaunya. Semangat mengembalikan simbol dan identitas Islam masa lalu terus dipompakan, termasuk di antaranya penggunaan jilbab bagi kaum perempuan dan pemeliharaan kumis dan jenggot bagi laki-laki.
Kadar proteksi dan ideologi di balik fenomena jilbab di Indonesia tidak terlalu menonjol. Fenomena yang lebih menonjol ialah jilbab sebagai tren, mode, dan privacy sebagai akumulasi pembengkakan kualitas pendidikan agama dan dakwah di dalam masyarakat. Lagi pula, bukankah salah satu ciri budaya bangsa dalam potret perempuan masa lalu adalah kerudung?
Tidak perlu over estimate atau fobia bahwa fenomena jilbab merupakan bagian dari jaringan ideologi tertentu yang menakutkan. Jilbab tidak perlu dikesankan seperti "imigran gelap" yang selalu dimata-matai, seperti yang pernah terjadi pada masa lalu yaitu fenomena jilbab dicurigai sebagai bagian dari ekspor Revolusi Iran. Sepanjang fenomena jilbab tumbuh di atas kesadaran sebagai sebuah pilihan dan sebagai ekspresi pencarian jati diri seorang perempuan muslimah, tidak ada unsur paksaan dan tekanan, itu sah-sah saja. Tidakkah manusiawi jika seseorang menentukan pilihannya secara sadar?

Senin, 20 Mei 2013

Cara Memakai Jilbab Pashmina Terbaru Untuk Kerja

Cara memakai jilbab pashmina untuk ke kantor terbaru berikut ini bisa Anda gunakan untuk kerja sehari-hari. Jika Anda seorang wanita karir yang membutuhkan jilbab yang dapat menunjang aktivitas kerja, maka tips memakai jilbab ini bisa Anda coba dirumah.


Cara Memakai Jilbab Pashmina Terbaru
Jika Anda bosan dan jenuh memakai jilbab pashmina bunga atau polos, maka Anda bisa mencoba memakai jilbab pashmina batik yang ternyata tidak kalah menarik dengan jilbab jenis lainnya. Seperti yang dikutip dari vemale.com, persiapkan ninja, jilbab pashmina batik, jarum pentul dan bros bunga untuk mempercantik penampilan. Jika semuanya sudah siap, bisa langsung mengikuti tutorial cara memakai jilbab dibawah ini.

Langkah pertama, pakai dalaman ninja Anda untuk menutupi bagian kepala dan leher. Kemudian gunakan jilbab pashmina dengan posisi sisi jilbab sebelah kiri lebih panjang dari pada sisi sebelah kanan.
Langkah kedua ambil sisi sebelah kiri jilbab pashmina Anda kemudian arahkan ke belakang leher. Setelah itu lingkarkan melalui belakang leher sampai ke samping kanan kepala Anda seperti pada gambar diatas. 
Langkah ketiga, sematkan sisi pashmina yang ada di dekat telinga Anda menggunakan jarum pentul.
Langkah keempat, ambil sisi jilbab yang panjang, kemudian angkat dan letakkan ke atas kepala Anda.
Langkah kelima, tarik sisi jilbab yang panjang sampai menempel di kepala. Pastikan salah satu sisinya menyentuh telinga Anda. Agar posisinya kuat dan tidak bergeser, sematkan dengan jarum pentul.
Anda dapat menambahkan bros bunga untuk membuat penampilan Anda semakin cantik, pasang di samping kanan telinga Anda.
Simple dan mudah bukan? Anda akan terlihat mempesona dengan penampilan baru yang menawan. Tentu saja penampilan baru Anda juga akan membawa semangat baru dalam bekerja

Cara Memakai Jilbab Segi Empat Simpel Dan Anggun

Cara memakai jilbab segi empat untuk ke kampus berikut ini dapat menampilkan sisi anggun seorang wanita. Cara memakai jilbab yang simpel dan praktis memang lebih banyak disukai oleh wanita yang memiliki kesibukan yang sangat padat. Karena dengan waktu yang terbatas tetap bisa tampil modis dan trendy.  
 
Cara Memakai Jilbab Segi Empat Simpel

Persiapkan :
  • Inner jilbab
  • Jilbab segi empat
  • Jarum pentul
  • Bros sebagai aksesoris tambahan


Langkah pertama, siapkan jilbab segi empat kemudian pakai dengan posisi sebelah kanan dan kri sama panjang. Keadaan jilbab langsung pakai saja tanpa harus membentuknya menjadi bentuk segitiga.
Langkah kedua, tarik sisi jilbab sebelah kiri ke arah telinga kanan. Agar posisinya kuat, sematkan dengan jarum pentul.
Langkah ketiga, Angkat ujung jilbab sebelah kiri tadi yang baru saja Anda sematkan ke arah depan Anda.
Langkah keempat, naikkan ujung jilbab tadi sampai ke atas kepala Anda seperti tampak pada gambar diatas.
Langkah kelima, biarkan ujung jilbab yang sudah Anda naikkan tadi sampai pada telinga kiri Anda. Kemudian sematkan dengan jarum pentul untuk menguatkan posisinya.
Terakhir, untuk menambah kesan anggun, pasang bros pada bagian telinga sebelah kanan Anda.
Bros yang sudah terpasang Anda pasang tadi akan tampak seperti pada gambar diatas.
Kini kreasi jilbab Anda tidak ribet namun tetap dapat menampilan kesan yang anggun. Tidak ribet dan berbelit-belit bukan?

Cara Memakai Jilbab Segi Empat Motif Modis

Cara memakai jilbab segi empat motif modis memang selalu diminati. Wanita mana yang tidak ingin tampil modis? Pasti semua wanita ingin terlihat trendy dengan busana yang dikenakan. Berikut ini salah satu cara memakai jilbab kreasi menggunakan jilbab segi empat yang dapat mengubah penampilan Anda menjadi menawan.
 
 
Cara memakai jilbab segi empat motif

Persiapkan :
  • Inner jilbab ninja
  • Jilbab segi empat motif
  • Jarum pentul
Langkah pertama, pakai inner jilbab ninnja Anda kemudian siapkan jilbab segi empat motif yang Anda miliki.
Langka kedua, Ambil salah satu ujung jilbab segi empat dan letakkan di atas kepala Anda seperti yang terlihat pada gambar diatas, kemudian sematkan dengan jarum pentul agar posisinya tidak bergeser.
Langkah ketiga, bentangkan seluruh sisi jilbab Anda ke depan badan seperti yang terlihat pada gambar diatas, kemudian pastikan Anda bisa memegang ujung kanan dan kiri jilbab.
Langkah keempat, tarik jilbab yang Anda pegang tadi dengan tangan kanan ke bagian belakang tubuh Anda. Kemudian pegang dengan tangan kiri Anda.
Langkah kelima, angkat bagian jilbab yang menjuntai dan letakkan di atas kepala Anda.
Terakhir, sematkan jilbab yang terletak di bagian kiri kepala Anda menggunakan jarum pentul agar tidak terbuka.
Kini jilbab Anda sudah terihat modis, anggun, dan tetap syar'i. Sebagai alternatif lain dalam berhijab,

Cara Memakai Jilbab Segi Empat Dengan Aksesoris Bunga

Cara memakai jilbab segi empat dengan aksesoris bunga berikut ini dapat merubah gaya berhijab Anda sehinga cara memakai jilbab tidak membosankan dan lebih enak untuk dilihat. Jika Anda memiliki banyak koleksi jilbab segi empat, kini Anda bisa mengambil salah satu untuk segera mengikuti tutorial mudha berikut ini sehingga orang lain tidak akan pernah mengira bahwa jilbab yang Anda gunakan adalah jilbab segi empat



Cara Memakai Jilbab Segi Empat Dengan Aksesoris Bunga

Persiapkan:
  • Inner jilbab
  • Jilbab segi empat
  • Jarum pentul
  • Korsase bunga
Langkah pertama, gunakan jilbab segi empat pada salah satu sisinya tanpa mengubah bentuknya menjadi segitiga.
Langkah kedua, ambil ujung jilbab sebelah kiri kemudian masukkan ke sisi dalam jilbab sebelah kanan seperti yang terlihat pada gambar diatas, kemudian letakkan ujungnya di dekat telinga Anda. Agar posisinya kuat dan tidak bergeser sematkan dengan jarum pentul.

Langkah ketiga, ambil sisi sebelah kanan jilbab segi empat Anda kemudian arahkan ke arah samping kanan Anda seperti pada gambar diatas.

Langkah keempaat, bawa sisi jilbab segi empat sebelah kanan ke depan badan Anda.

Langkah kelima, tarik sisi jilbab sampai ke atas kepala, kemudian pegang ujungnya dengan tangan Anda.

Terakhir, letakkkan ujung jilbab segi empat yang Anda pegang tadi ke bawah jilbab segi empat pada bagian kanan seperti pada gambar diatas, kemudian Anda dapat memasang korsase bunga di atasnya.

Kini Anda sudah terlihat cantik dan tentu saja berbeda dengan penampilan seperti hari-har sebelumnya. Korsase bunga tersebut dapat mempercantik dan mempermanis penampilan muslimah Anda

Cara Memakai Jilbab Pashmina Chiffon Untuk Acara Resmi

Cara memakai jilbab pashmina chiffon berikut ini tidaklah rumit namun tetap terlihat elegan sehingga dapat Anda gunakan untuk mengghadiri acara resmi tertentu. Sebagai seorang wanita yang mempunyai kesibukan yang sangat padat, tentu saja Anda membutuhkan jilbab yang dapat dipakai secara cepat namun tetap menonjolkan sisi anggun seorang wanita. Jilbab pashmina chiffon dibawah ini bisa menjadi solusi bagi Anda yang akan menghadiri sebuah acara resmi.



Cara Memakai Jilbab Pashmina Chiffon
Anda dapat segera menyiapkan perlengkapan yang digunakan agar dapat mempraktekkannya dengan lancar. Persiapkan terlebih dahulu jilbab pashmina chiffon, jarum pentul, dan bros bunga sebagai pemanis. Jika semua sudah siap, bisa langsung menyimak tutorial cara memakai jilbab pashmina berikut ini seperti yang dikutip dari vemale.com.

Langkah pertama, pakai jilbab pashmina chiffon Anda dengan posisi jilbab sebelah kirin lebih panjang daripada sisi kanan jilbab.
Langkah kedua, ambil dua ujung jilbab kemudian arahkan ke arah bagian belakang leher. Sematkan dengan jarum pentul agar posisinya tidak bergeser.
Langkah ketiga, sematkan jarum pentul pada bagian sebelah kanan jilbab yang berada di dekat telinga agar posisi jilbab lebih kuat dan tidak berubah.
Langkah keempat, lakukan juga langkah ketiga pada sisi jilbab sebelah kiri.
Langkah kelima, ambil sisi pashmina yang panjang kemudian arahkan ke atas kepala melalui samping kepala Anda. Pashmina diarahkan ke atas secara miring seperti pada gambar diatas.
Lankah keenam, letakkan sisa pashmina yang panjang melalui bagian dalam jilbab yang tadi sudah dibawa ke atas.
Langkah terakhir, gunakan bros bunga di ikatan yang baru saja Anda ciptakan sehingga dapat membuat penampilan Anda semakin manis.
Karena sangat praktis, jadi tidak membuat Anda terburu-buru dalam memakainya.

Cara Memakai Jilbab Pashmina Turban Metalik Untuk Pesta

Cara memakai jilbab pashmina turban berikut ini bisa Anda gunakan untuk acara resmi atau acara pesta. Dengan sedikit sentuhan gaya ala negeri seribu satu malam, Anda akan tampil cantik dan anggun sehingga membuat percaya diri untuk menghadiri acara tersebut. Anda akan tampak formal dengan perpaduan busana muslim yang serasi dengan jilbab pashmina yang Anda kenakan.


Cara Memakai Jilbab Pashmina Turban

Sebelum melihat tutorial dibawah ini, sebaiknya persiapkan perlengkapan yang dibutuhkan diantaranya adalah jilbab pashmina, inner, dan jarum pentul. Setelah semuanya siap, Anda bisa langsung memulai tutorial cara memakai jilbab pashmina turban metalik dibawah ini.

  • Langkah pertama, pasang jilbab Anda dengan kedua sisi jilbab sama panjang seperti gambar diatas. 
  • Setelah itu ambil kedua sisi jilbab dengan cara menyilangkan di belakang kepala. 
  • Buat lekukan di bagian atas kepala dengan menggunakan jarum pentul seperti pada gambar diatas. 
  • Setelah selesai membuat lekukan, kemudian ambil salah satu sisi jilbab dan buat seperti tudung di kepala. 
  • Langkah selanjutnya ambil sisi pada bagian lainnya kemudian lilitkan di atas kepala. Untuk membuat posisi pashmina rapat, Anda bisa sematkan jarum pentul di samping kepala. 
  • Langkah terkahir, untuk mempercantik penampilan Anda bisa memasang bros liontin seperti pada gambar diatas. 
Tidak ribet dan mudah bukan? Anda dapat tampil elegan dan modis hanya dengan beberapa langkah mudah dan simple

Cara Memakai Jilbab Beautiful Bow

Cara memakai jilbab beautiful bow berikut ini akan membuat penampilan Anda terlihat lebih feminim dan girly. Beautiful Bow, dari namanya saja sudah bisa ditebak bahwa cara memakai jilbab tersebut memakai pita cantik yang akan menghiasi jilbab kita. Sehingga Anda nampak lebih imut dan cantik dengan penampilan yang berbeda.



Persiapkan :
  • Inner jilbab
  • Jilbab pashmina
  • Peniti atau jarum pentul
  • Pita jepit pita manis

Langkah pertama, pakai jilbab pashmina Anda seperti pada gambar diatas dengan posisi kedua sisi sama panjang. Sisakan bagian belakang agak longgar.
Langkah kedua, ambil ujung jilbab pashmina depan kemudian buat ikatan sederhana seperti yang terlihat pada gambar. Setelah itu kalungkan ikatan tersebut ke belakang tengkuk Anda. 
Langkah ketiga, ambil salah satu sisi jilbab pashmina depan yang masih terurai kemudian tarik ke sisi wajah yang lain. Agar posisinya kuat dan tidak bergeser, sematkan peniti atau jarum pentul.
Terakhir, pakai pita jepit pita manis Anda di salah satu sisi kening seperti pada gambar diatas. 
Cukup simple dan cepat bukan? Anda terlihat cute dengan memakai perpaduan warna yang serasi seperti yang terlihat pada gambar diatas